Laki-laki jika bukan karena ilmu dan agamanya, ia akan gila karena hawa nafsunya. Dan perempuan jika bukan karena ilmu dan agamanya, ia akan gila karena perasaannya.
Makna dari kutipan tersebut adalah pentingnya ilmu dan agama sebagai pengendali diri bagi setiap manusia agar tidak tersesat oleh sifat dasar yang melekat pada diri mereka.
Penjelasan Makna
- Laki-laki dan Hawa Nafsu: Tanpa landasan agama dan ilmu pengetahuan, seorang laki-laki cenderung mudah dikendalikan oleh dorongan hawa nafsu, amarah, atau ambisi duniawi yang berlebihan.
- Perempuan dan Perasaan: Tanpa pegangan agama dan ilmu, seorang perempuan rentan terombang-ambing atau dikuasai oleh gejolak perasaan dan emosi yang mendalam dalam menghadapi berbagai situasi.
- Peran Ilmu dan Agama: Keduanya berfungsi sebagai rem atau kendali moral yang menjaga akal sehat, keseimbangan mental, serta arah hidup seseorang agar tetap berada di jalan yang benar.
Secara redaksional, kutipan tersebut bukanlah ayat Al-Qur'an maupun hadis Nabi. Kalimat ini merupakan kata mutiara (quotes) atau nasihat ulama/tokoh yang viral di media sosial untuk menggambarkan psikologi dan fitrah manusia jika jauh dari agama.
Meski bukan teks hadis, substansi dan esensi dari nasihat tersebut sangat sejalan dan berakar dari prinsip-prinsip yang ada di dalam Al-Qur'an dan Hadis mengenai pentingnya ilmu, bahaya hawa nafsu bagi laki-laki, serta cara menyikapi perasaan bagi perempuan.
1. Landasan tentang Bahaya Hawa Nafsu (Fokus Laki-laki)
Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia—terutama laki-laki—memiliki kecenderungan syahwat yang tinggi terhadap wanita dan materi duniawi, yang jika tidak dikendalikan dengan iman akan menjerumuskannya.
QS. Ali 'Imran: 14
QS. Yusuf: 53 (Tentang Sifat Nafsu)
Peringatan Rasulullah SAW dalam Hadis
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku seburuk-buruk fitnah (ujian/godaan) bagi laki-laki daripada ujian yang datang dari wanita." (HR. Bukhari & Muslim).
2. Landasan tentang Perasaan dan Emosi (Fokus Perempuan)
Islam memahami bahwa perempuan dianugerahi perasaan dan empati yang sangat mendalam (sensitif). Jika perasaan ini tidak dibimbing oleh ilmu agama, ia bisa menjadi celah bagi setan untuk memicu prasangka, kecemasan, atau keputusan yang emosional.
-
Pesan Rasulullah agar Lembut terhadap Perempuan:
Rasulullah SAW mengibaratkan perempuan seperti gelas-gelas kaca yang mudah retak jika tidak diperlakukan dengan hati-hati:
"Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita)." (HR. Bukhari). -
Perlunya Membimbing Akal dan Hati dengan Iman:
Dalam hadis lain, Nabi mengingatkan bahwa wanita terkadang mudah terbawa emosi atau perasaan sehingga perlu terus dibimbing dengan ilmu agar tidak salah melangkah atau kufur nikmat terhadap suaminya.
3. Landasan tentang Pentingnya Ilmu dan Agama sebagai Penyelamat
Kutipan tersebut menekankan bahwa penawar dari gila nafsu maupun gila perasaan adalah ilmu dan agama. Ini sejalan dengan perintah wajibnya menuntut ilmu dalam Islam.
QS. Al-Mujadilah: 11
Hadis tentang Ilmu sebagai Jalan Keselamatan
"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Kesimpulannya: Nasihat tersebut adalah konseptualisasi dari ajaran Islam. Laki-laki dibekali fisik dan logika yang kuat, namun musuh terbesarnya adalah hawa nafsu syahwat. Perempuan dibekali kelembutan hati, namun musuh terbesarnya adalah gejolak emosi dan perasaan yang tak terkontrol. Keduanya hanya bisa diselamatkan jika hidupnya dipandu oleh syariat agama dan ilmu pengetahuan.