Decorative Leaves Header Left
Decorative Islamic Element Header

Keluarga Nabi Yang Ingkar

Oktober 17, 2026 saira54persen
Tadabbur Kisah Al-Qur'an & Ibrah Nabawiyah

Kisah Keluarga Para Nabi yang Ingkar: Pelajaran Berharga tentang Hakikat Hidayah & Tanggung Jawab Diri

Sejarah Islam mencatat kepedihan mendalam di balik kemuliaan para nabi pilihan: istri yang mengkhianati akidah, anak yang menolak naik bahtera keselamatan, ayah pembuat berhala, hingga paman kandung yang menjadi penentang paling keras. Kisah-kisah ini menegaskan kaidah agung bahwa iman dan ketakwaan tidak bisa diwariskan secara biologis, dan hidayah adalah hak prerogatif mutlak Allah SWT.

Kisah Keluarga Para Nabi yang Ingkar - Saira 54Persen Islam
Bahtera Nabi Nuh AS menerjang gelombang air bah raksasa di bawah pancaran cahaya Ilahi — Simbol abadi keselamatan bagi orang yang beriman dan kebinasaan bagi orang yang sombong.
Nabi Nuh 'Alaihissalam

Istri & Anak (Kan'an)

Anak sombong lari ke gunung menolak bahtera, istri berkhianat akidah mendustakan wahyu. Keduanya binasa ditelan air bah.

Nabi Luth 'Alaihissalam

Istri Nabi Luth (Wailah)

Tinggal bersama nabi mulia namun membocorkan rahasia tamu & merestui maksiat kaum Sodom. Ikut diazab hujan batu.

Nabi Ibrahim 'Alaihissalam

Ayah Kandung (Azar)

Pemahat & penyembah berhala yang mengancam merajam putranya sendiri. Menolak tauhid hingga akhir hayat.

Nabi Muhammad SAW

Abu Lahab & Abu Thalib

Abu Lahab memusuhi keras diabadikan di Surah Al-Lahab; Abu Thalib membela mati-matian namun wafat sebelum mengucap syahadat.

Murottal Suara Asli Qari Al-Qur'an Audio Shahih
Dengarkan lantunan tartil merdu imam Masjidil Haram, Madinah, & qari internasional ternama:
Kisah Teladan 1: Ujian Terberat Ayah & Suami

1. Istri & Anak Nabi Nuh AS: Ketika Puncak Gunung Tak Mampu Menghalau Murka Allah

Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun dengan penuh kesabaran, siang dan malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Namun, ujian paling mengoyak batin justru lahir dari lingkaran terdalam rumah tangganya sendiri: istrinya (bernama Waghilah/Walihah) dan anak kandungnya yang bernama Kan'an (atau Yam).

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ ٤٢ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ٤٣
"Wa hiya tajrī bihim fī mawjin kal-jibāli wa nādā Nūhun-ibnahū wa kāna fī ma'zilin yā bunayyarkab ma'anā wa lā takum-ma'al-kāfirīn. (42) Qāla sa-āwī ilā jabalin ya'shimunī minal-mā', qāla lā 'āshimal-yawma min amrillāhi illā mar-rahima, wa hāla baynahumal-mawju fakāna minal-mughraqīn. (43)"
Artinya: "Dan bahtera itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya — ketika dia berada di tempat yang jauh terpencil: 'Wahai anakku! Naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.' (42) Anaknya menjawab: 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah!' Nuh berkata: 'Tidak ada pelindung hari ini dari ketetapan Allah, kecuali siapa yang dirahmati-Nya.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (43)

Kisah Sang Anak (Kan'an): Ketika air bah menyembur dari perut bumi dan langit menumpahkan hujan lebat yang tak pernah terjadi sebelumnya, Nabi Nuh melihat putranya tersudut. Naluri seorang ayah memanggilnya dengan penuh kelembutan: "Yaa bunayya" (wahai anak kesayanganku). Namun, kesombongan rasionalitas Kan'an membutakan hatinya. Ia mengira gunung batu yang tinggi sanggup melindunginya dari azab Allah. Seketika gelombang raksasa datang menggulung, memisahkan ayah dan anak selamanya.

Kisah Sang Istri: Istri Nabi Nuh tidak sekadar menolak beriman, tetapi secara aktif menjadi duri dalam dakwah suaminya. Ketika ada orang yang beriman secara diam-diam, sang istri membocorkannya kepada para pembesar kaum kafir dengan mencap Nabi Nuh sebagai orang gila (*majnun*).

Pelajaran & Penegasan Al-Qur'an (QS. Hud: 46):

Ketika Nabi Nuh memohon ampunan dan keselamatan bagi putranya, Allah SWT menegur beliau dengan firman-Nya:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ ٤٦
"Qāla yā Nūhu innahū laysa min ahlik, innahū 'amalun ghayru shālih, falā tas'alni مَا laysa laka bihī 'ilm, innī a'izhuka an takūna minal-jāhilīn."
Artinya: "Dia (Allah) berfirman: 'Wahai Nuh! Sungguh, dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan selamat), sungguh (perbuatannya) adalah perbuatan yang tidak baik. Maka janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikatnya. Sungguh, Aku memperingatkanmu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh'." (QS. Hud [11]: 46) — Hal ini menjadi dalil qath'i bahwa ikatan akidah tauhid jauh lebih tinggi dan hakiki daripada sekadar ikatan nasab darah.
Kisah Teladan 2: Bahaya Bersekutu dengan Maksiat

2. Istri Nabi Luth AS (Wailah): Berkhianat Membela Kemungkaran Kaum Sodom

Nabi Luth AS diutus kepada penduduk negeri Sodom dan Gomora yang melakukan penyimpangan fitrah seksual (homoseksualitas) yang belum pernah dilakukan oleh kaum mana pun di alam semesta. Di tengah perjuangan dakwah yang sangat berat dan sunyi, istri Nabi Luth (bernama Wailah/Waliah) justru menjadi musuh dalam selimut.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ ١٠
"Dharaballāhu matsalal-lilladzīna kafarūm-ra'ata Nūhiw-wam-ra'ata Lūth, kānatā tahta 'abdayni min 'ibādinā shālihayni fakhānatāhumā falam yughniyā 'anhumā minallāhi syay-aw wa qīlad-khulan-nāra ma'ad-dākhilīn."
Artinya: "Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah (pengawasan) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (azab) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu): 'Masuklah kamu berdua ke dalam api neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).'"

Bentuk Pengkhianatan: Para ulama tafsir (termasuk Ibnu Abbas RA) sepakat bahwa khianat di sini bukanlah perzinaan fisik, sebab istri para nabi dijaga dari kehinaan moral tersebut. Pengkhianatannya adalah dalam ranah akidah dan loyalitas.

Ketika para malaikat berwujud pemuda-pemuda tampan bertamu ke rumah Nabi Luth, sang istri segera keluar rumah, menyalakan api/asap di atap sebagai kode rahasia, lalu memberi tahu penduduk Sodom: "Di rumah Luth ada tamu-tamu pemuda yang belum pernah kulihat ketampanannya!" Akibatnya, rumah Nabi Luth dikepung massa yang beringas.

Saat malaikat memerintahkan Nabi Luth dan keluarganya pergi di waktu fajar sebelum azab dijatuhkan, Allah memberi instruksi tegas: "Dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu!" (QS. Hud: 81). Ketika bumi dibalik dan dihujani batu belerang panas, sang istri menoleh karena hatinya masih terikat dengan kemaksiatan kaumnya. Seketika batu azab menyambarnya dan ia binasa di tempat.

Kaidah Fiqih & Akhlaq:

"Ar-Ridha bil-kufr kufr, war-ridha bil-ma'shiyati ma'shiyah" (Meridhai kekufuran adalah kekufuran, dan meridhai kemaksiatan adalah kemaksiatan). Istri Nabi Luth tidak melakukan perbuatan homoseksual, namun karena ia merestui, mendukung, dan membela para pelaku kejahatan moral, Allah menimpakan azab yang sama persis kepadanya.

Kisah Teladan 3: Ujian Birrul Walidain & Keteguhan Tauhid

3. Ayah Kandung Nabi Ibrahim AS (Azar): Memahat Berhala Menolak Tauhid

Nabi Ibrahim AS bergelar Khalilullah (Kekasih Allah) dan Abul Anbiya (Bapak Para Nabi). Namun, sosok yang paling dekat yang melahirkannya ke dunia, yakni ayahnya (Azar), adalah seorang pembuat, penjual, sekaligus pemuja berhala di Babilonia.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا ٤٢ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا ٤٣ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا ٤٤ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا ٤٥ قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا ٤٦
"Idz qāla li-abīhi yā abati lima ta'budu mā lā yasma'u wa lā yubshiru wa lā yughnī 'anka syay-ā. (42) Yā abati innī qad jā-anī minal-'ilmi mā lam ya'tika fattabi'nī ahdika shirāthan sawiyyā. (43) Yā abati lā ta'budis-syaythān, innas-syaythāna kāna lir-rahmāni 'ashiyyā. (44) Yā abati innī akhāfu ay-yamassaka 'adzābum-minar-rahmāni fatakūna lis-syaythāni waliyyā. (45) Qāla arāghibun anta 'an ālihatī yā Ibrāhīm, la-il lam tantahi la-arjumannak, wahjurnī maliyyā. (46)"
Artinya: "Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (42) Wahai ayahku! Sungguh, telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (43) Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. (44) Wahai ayahku! Sungguh, aku takut engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.' (45) Dia (ayahnya) menjawab: 'Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam! Dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama!' (46)"

Nabi Ibrahim mencontohkan adab dakwah terbaik sepanjang zaman. Meski diancam akan dilempari batu (*dirajam*) dan diusir dari rumah, Nabi Ibrahim mengulang sapaan kasih sayang dan penghormatan "Yaa Abati" sebanyak empat kali berturut-turut. Beliau bahkan sempat memohonkan ampunan kepada Allah untuk sang ayah selama masih hidup.

Larangan Memohonkan Ampunan bagi Musyrik (QS. At-Taubah: 114):

Namun, ketika Azar wafat dalam keadaan musyrik, Allah SWT menegaskan bahwa batas toleransi akidah telah usang:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ ١١٤
"Wa mā kānas-tighfāru Ibrāhīma li-abīhi illā 'am-maw'idatiw-wa'adahā iyyāh, falammā tabayyana lahū annahū 'aduwwul-lillāhi tabarra-a minh, inna Ibrāhīma la-awwāhun halīm."
Artinya: "Dan permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya. Maka ketika telah jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (QS. At-Taubah [9]: 114)
Kisah Teladan 4: Dua Paman, Dua Takdir Kontras

4. Paman Nabi Muhammad SAW: Kontras Abu Lahab & Abu Thalib

Pada masa Rasulullah Muhammad SAW, ujian keluarga terdekat tampil dalam dua cermin yang sangat kontras melalui dua paman kandung beliau: Abu Lahab (Abdul Uzza) dan Abu Thalib (Abdu Manaf).

A. Abu Lahab & Ummu Jamil: Kebencian Abadi yang Dilaknat Al-Qur'an

Abu Lahab adalah paman kandung Nabi yang paling congkak dan kejam memusuhi Islam. Ketika Nabi mengumpulkan kaum Quraisy di Bukit Shafa untuk menyampaikan wahyu, Abu Lahab berteriak: "Tabban laka sa-iral yaum, a-lihadza jama'tana?!" (Celakalah engkau sepanjang hari, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?!).

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ١ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ٢ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ٣ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ٤ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ ٥
"Tabbat yadā abī Lahabiw-wa tabb. (1) Mā aghnā 'anhu māluhū wa mā kasab. (2) Sayashlā nāran dzāta lahab. (3) Wam-ra'atuhū hammālatal-hathab. (4) Fī jīdihā hablum-mim-masad. (5)"
Artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! (1) Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. (2) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). (3) Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (4) Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal." (5)

Istrinya, Ummu Jamil (Arwa binti Harb), menebarkan duri-duri tajam di jalan yang biasa dilalui Rasulullah dan melantunkan bait-bait puisi menghina Nabi. Keduanya mati mengenaskan dalam keadaan hina dan kekal di neraka.

B. Abu Thalib: Membela Mati-Matian, Namun Terhalang Gengsi Jahiliyah

Sangat bertolak belakang dengan Abu Lahab, Abu Thalib adalah benteng pelindung Rasulullah SAW selama puluhan tahun. Beliau ikut merasakan derita boikot kelaparan di Syi'ib Abi Thalib demi membela keponakannya. Namun, di saat detik-detik sakaratul mautnya tiba, Rasulullah datang membisikkan: "Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan kujadikan pembela bagimu di hadapan Allah."

Namun, di samping Abu Thalib ada Abu Jahal yang terus memprovokasi: "Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama nenek moyangmu, Abdul Muthalib?" Hingga akhirnya Abu Thalib menghembuskan napas terakhirnya di atas agama kaumnya. Hati Rasulullah sangat hancur dan bersedih, hingga Allah SWT menurunkan wahyu penyejuk jiwa:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٥٦
"Innaka lā tahdī man ahbabta wa lākinnallāha yahdī may-yasyā', wa Huwa a'lamu bil-muhtadīn."
Artinya: "Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."
Rangkuman Perbandingan Fiqih & Sejarah

Tabel Analisis: Hubungan Kekerabatan vs Ketetapan Hidayah

Berikut adalah komparasi terstruktur dari empat keluarga nabi yang ingkar beserta pelajaran akidah yang dipetik:

Nabi & Rasul Keluarga Terdekat Bentuk Ujian / Keingkaran Akhir Kehidupan Ibrah Utama (Pelajaran)
Nabi Nuh AS Istri & Anak Kandung (Kan'an) Sombong mengandalkan gunung batu & memfitnah Nabi gila. Tenggelam binasa dalam air bah raksasa. Ikatan darah terdekat gugur di hadapan tauhid.
Nabi Luth AS Istri (Wailah) Membocorkan rahasia tamu & merestui maksiat kaum Sodom. Dihujani batu panas & dijungkirbalikkan. Merestui maksiat sama dosanya dengan pelaku maksiat.
Nabi Ibrahim AS Ayah Kandung (Azar) Memahat, menyembah berhala, & mengancam merajam putranya. Wafat dalam kemusyrikan di Babilonia. Kemuliaan seorang nabi tak menghapus syirik orang tuanya.
Nabi Muhammad SAW Paman (Abu Lahab & Abu Thalib) Abu Lahab memusuhi keras; Abu Thalib membela tapi enggan bersyahadat. Abu Lahab terlaknat abadi; Abu Thalib wafat tanpa Islam. Hidayah murni hak prerogatif Allah; manusia hanya menyampaikan.
Konklusi Akidah

5 Pelajaran Emas untuk Kehidupan Kita Hari Ini

1

Hidayah adalah Hak Prerogatif Mutlak Allah SWT

Jika sosok termulia seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Rasulullah Muhammad SAW saja tidak memiliki wewenang memberikan hidayah taufiq kepada anak, ayah, dan paman tercintanya, maka kita pun tidak boleh sombong atas hidayah Islam yang kita miliki hari ini. Rawatlah nikmat iman dengan selalu berdoa memohon ketetapan hati.

2

Nasab Mulia Tidak Menjamin Masuk Surga

Rasulullah SAW pernah mengingatkan putri tercintanya: "Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku sesukamu, namun aku tidak bisa melindungimu sedikit pun dari siksa Allah!" (HR. Bukhari). Keselamatan di hadapan Allah dibangun atas dasar amal shalih dan tauhid pribadi, bukan membanggakan garis keturunan bangsawan atau ulama.

3

Menghargai Proses Dakwah Tanpa Putus Asa

Para dai dan orang tua yang merasa belum berhasil membimbing keluarganya tidak boleh merasa gagal total secara mutlak. Tugas manusia adalah Al-Balagh (menyampaikan dengan hikmah, kesabaran, dan teladan baik). Hasil akhir adalah urusan Allah Azza wa Jalla.

4

Kaidah Pertanggungjawaban Pribadi (Al-Idkhal)

Al-Qur'an menegaskan dalam QS. Fathir [35]: Ayat 18: وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ١٨ ("Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"). Anak shalih tidak akan menanggung dosa ayahnya yang fasik, dan ayah yang shalih tidak menanggung dosa anaknya yang memilih kufur setelah dididik dengan benar.

5

Ketegasan Memilih Antara Cinta dan Akidah

Kasih sayang kepada keluarga adalah fitrah kemanusiaan. Namun saat dihadapkan pada prinsip tauhid dan kebenaran wahyu, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus diletakkan di atas segala-galanya tanpa kompromi kebatilan.

Muhasabah & Pengingat Hati

Audit Diri: Syukuri & Rawat Hidayah Sebelum Terlambat

Centang komitmen perbaikan di bawah ini untuk mengukur kesadaran batin Anda terhadap agungnya nikmat hidayah iman:

Tidak menyombongkan diri atas keshalihan pribadi, nasab keluarga, atau gelar keagamaan.
Rutin membaca doa memohon ketetapan iman (*Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi 'ala dinik*).
Bersabar dan tetap berakhlak mulia saat menasihati anggota keluarga yang belum taat beribadah.
Tidak merestui, memuji, atau memfasilitasi kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat.
Mendoakan kebaikan dan ampunan bagi kedua orang tua di setiap selesai sholat lima waktu.
Komitmen Terpenuhi: 0 / 5 (Mulai Muhasabah)
Tanya Jawab Fiqih & Kisah Al-Qur'an

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Keluarga Nabi

Apakah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth pernah berzina secara fisik?
Sama sekali tidak pernah. Para sahabat dan ulama tafsir terkemuka seperti Ibnu Abbas RA, Ikrimah, dan Al-Hasan Al-Bashri menegaskan: "Maa baghat imra'atu nabiyyin qatthu" (Tidak pernah ada satu pun istri nabi yang berzina/melakukan perbuatan keji). Allah menjaga kehormatan ranjang para rasul dari aib zina. Pengkhianatan istri Nabi Nuh dan Luth murni dalam ranah akidah (kekafiran) dan membocorkan rahasia dakwah kepada musuh.
Mengapa Nabi Nuh ditegur Allah ketika mendoakan Kan'an saat banjir?
Nabi Nuh sebelumnya dijanjikan oleh Allah: "Kami akan menyelamatkan keluargamu" (QS. Al-Mu'minun: 27). Karena itu, Nabi Nuh mengira janji tersebut mencakup Kan'an atas dasar ikatan darah. Allah meluruskan pemahaman Nabi Nuh bahwa yang dimaksud "keluarga keselamatan" adalah mereka yang beriman. Mendoakan orang kafir yang telah nyata meninggal dalam kekufuran bertentangan dengan ketetapan takdir Allah.
Bolehkah seorang anak muslim berbuat baik kepada orang tua yang berbeda keyakinan?
Sangat diwajibkan. Al-Qur'an dalam QS. Luqman ayat 15 memerintahkan: jika orang tua memaksamu berbuat syirik, jangan taati mereka, namun "Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik (ma'ruf)". Islam mewajibkan berbakti, merawat di hari tua, menyayangi, dan bertutur kata santun kepada orang tua, selama tidak mengikuti kekufurannya.
Apakah Abu Thalib mendapatkan keringanan siksa di akhirat karena jasanya membela Nabi?
Berdasarkan hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, paman Nabi (Al-Abbas RA) pernah bertanya kepada Rasulullah apakah beliau bisa memberi manfaat bagi Abu Thalib yang telah melindunginya. Rasulullah SAW menjawab bahwa atas syafaat khusus beliau, Abu Thalib diletakkan di dhadhdhah min nar (tingkatan neraka paling dangkal di mana api menyentuh mata kakinya), yang seandainya bukan karena syafaat Nabi, niscaya ia berada di dasar kerak neraka.
Doa Perlindungan Hidayah Al-Qur'an

Doa Memohon Keteguhan Iman & Keluarga Qurrata A'yun

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ٨ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤
(1) QS. Ali 'Imran [3]: 8: "Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba'da idz hadaytanā wa hab lanā mil-ladunka rahmah, innaka antal-wahhāb."
(2) QS. Al-Furqan [25]: 74: "Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a'yuniw-waj'alnā lil-muttaqīna imāmā."
Artinya:
(1) "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran: 8)
(2) "Wahai Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)
Teks berhasil disalin!